Kaltara Siapkan Pabrik Minyak Goreng, Gubernur Ajak Dukungan PKS dan Petani Plasma

Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mendorong langkah konkret hilirisasi sawit dengan rencana pendirian pabrik minyak goreng. Gubernur Zainal Arifin Paliwang menegaskan perlunya kolaborasi, mulai dari pasokan bahan baku 20 PKS hingga penguatan peran petani plasma melalui wadah organisasi yang lebih terstruktur.

BERITA

Arsad Ddin

1 Oktober 2025
Bagikan :

Gubernur Kalimantan Utara Zainal Arifin Paliwang memimpin rapat koordinasi pembangunan pabrik minyak goreng sawit di Hotel SwissBell Tarakan, Selasa (30/9/2025). (Foto: Dok. Diskominfo Kaltara).

Tarakan, HAISAWIT - Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara mulai mempersiapkan pendirian pabrik minyak goreng. Hal itu dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Gubernur Kaltara, Zainal Arifin Paliwang di Hotel SwissBell Tarakan, Selasa (30/9/2025).

Rapat ini dihadiri Pelaksana Tugas Dirjen Perkebunan Republik Indonesia Abdul Roni Angkat, sejumlah pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS), perwakilan asosiasi petani, serta unsur pemerintah pusat maupun daerah.

Dalam arahannya, Gubernur Zainal menyampaikan pembangunan pabrik minyak goreng sudah menjadi cita-cita sejak tiga tahun lalu. Ia menilai inisiatif ini penting bagi penguatan ekonomi daerah dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.

“Insyaallah pabrik minyak goreng ini akan kita bangun di Kaltara. Ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kaltara, tapi kalau bisa lebih, kita ekspansi ke wilayah Borneo,” ujar Zainal, dikutip dari laman Diskominfo Kaltara, Rabu (1/10/2025).

Ia menambahkan, langkah ini tidak akan berjalan tanpa dukungan penuh dari pemilik PKS di wilayah setempat. Menurutnya, ketersediaan bahan baku menjadi faktor penentu bagi keberhasilan operasional pabrik tersebut.

“Tanpa dukungan dari PKS yang ada di Kaltara, pembangunan pabrik ini tidak akan ada artinya. Kita harapkan bahan baku dari 20 PKS di Kaltara bisa menyuplai produksi pabrik nantinya,” ungkapnya.

Dalam sesi diskusi, gubernur mendengarkan masukan terkait kapasitas produksi masing-masing PKS. Informasi yang diperoleh menjadi dasar perencanaan, mulai dari skala harian hingga mekanisme kerja sama ekspor yang sudah berjalan.

Zainal juga menekankan perlunya menempatkan petani plasma dalam sistem yang lebih terstruktur. Menurutnya, peran petani plasma harus dipastikan mendapat ruang dalam ekosistem industri sawit di daerah.

“Tidak hanya berfokus pada sisi industri, tetapi hingga peran penting petani plasma dalam ekosistem kelapa sawit di Kaltara,” kata Zainal.

Ia menambahkan, penguatan peran petani plasma bisa dilakukan melalui wadah organisasi. Upaya ini merujuk pada contoh dari provinsi lain yang sudah memiliki asosiasi khusus untuk petani sawit.

“Kita perlu data berapa ribu petani plasma yang ada di Kaltara dan luasan lahan sawit yang mereka miliki, ini penting agar mereka juga bisa menyuarakan aspirasinya melalui asosiasi. Kami mohon bimbingan dari Pak Setyono agar petani plasma di Kaltara bisa lebih terorganisir dan sejahtera,” ucapnya.

Dalam rapat tersebut, masukan dari berbagai pihak mengenai kapasitas PKS dan pola kemitraan dengan petani plasma ikut dibahas, termasuk mekanisme suplai bahan baku yang akan menjadi landasan dalam rencana pembangunan pabrik minyak goreng di Kaltara.***

Bagikan :

Artikel Lainnya