
Forum Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference & Expo (IPORICE) 2025 mengangkat pentingnya transformasi petani sawit melalui hilirisasi energi hijau dan inovasi teknologi. Acara tersebut digelar di Kantor Kawasan BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (2/10/2025). (Foto: Dok. Humas BRIN)
Jakarta, HAISAWIT – Forum Indonesia Palm Oil Research & Innovation Conference & Expo (IPORICE) 2025 menghadirkan gagasan transformasi petani sawit agar lebih berdaya. Acara ini berlangsung di Kantor Kawasan BRIN Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Dalam forum tersebut, Ketua Umum Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) Pahala Sibua memaparkan pandangan mengenai kedaulatan koperasi sawit. Ia menekankan pentingnya peran petani dalam mendukung transisi energi berbasis inovasi.
“Petani Sawit Mengolah Tandan Buah Segar (TBS), Wujud Kedaulatan Koperasi Menggapai Ekonomi Hijau dan Ketahanan Energi,” ujar Pahala, dikutip dari laman BRIN, Minggu (5/10/2025).
Pahala menjelaskan perjalanan gagasannya sejak beberapa tahun lalu. Ia menyebut proses pembentukan tim hingga lahirnya konsep transformasi petani sawit yang lebih adaptif terhadap tantangan ekonomi dan energi nasional.
“Sejak 2020 sampai sekarang, saya memikirkan bagaimana petani itu naik kelas. Maka kami membuat tim dari asosiasi dasarnya petani juga. Lalu, tahun 2024 kami buat konsep-konsepnya,” katanya.
Menurutnya, fokus koperasi sawit tidak hanya pada aspek pangan. Pengembangan energi dinilai lebih realistis bagi petani sebagai upaya menghadirkan nilai tambah yang berkelanjutan.
“Kenapa harus energi? Kenapa nggak makanan? Ya, karena kami meninjau kalau makanan lebih susah dijangkau oleh petani daripada energi,” ucapnya.
Pahala juga menekankan perlunya perubahan pola pikir petani. Hal ini termasuk keberanian keluar dari ketergantungan harga TBS yang selama ini menjadi isu klasik dalam perdagangan sawit.
“Nah, kemudian saya buat agar petani keluar dari zona nyamannya dengan harga TBS. Apalagi sekarang harga TBS tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, disiplin dalam panen buah matang serta kolaborasi dengan mitra strategis akan menentukan keberhasilan koperasi. Langkah ini disebut sebagai pintu masuk untuk membangun pabrik kelapa sawit secara mandiri.
“Maka perlu kolaborasi atau bermitra dengan para investor. Ini kami coba dengan para petani bisa membangun PKS juga,” tutur Pahala.
Sejumlah inisiatif hilirisasi sawit yang dipaparkan dalam forum itu juga menarik perhatian, mulai dari pemanfaatan tandan kosong menjadi biochar hingga produksi High Free Fatty Acid Palm Oil (HGPU). Produk tersebut bahkan telah menembus pasar ekspor, termasuk ke China.
“Ini bukan hanya riset, tapi sudah implementasi pasar,” tambahnya.
BRIN menilai pengalaman koperasi sawit yang dibagikan dalam forum IPORICE menunjukkan arah baru bagi transformasi sektor sawit. Penguatan inovasi, kelembagaan koperasi, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan disebut sebagai faktor penting yang mendukung ketahanan energi berbasis sumber daya dalam negeri.***