Amankan 343 Ribu Hektare Area Sawit, Asian Agri Kucurkan Insentif Rp100 Juta bagi Desa Bebas Api

Asian Agri menyalurkan insentif hingga Rp100 juta bagi desa di Riau dan Jambi yang berhasil mencegah kebakaran lahan. Program berbasis komunitas ini melindungi 343.000 hektare area sawit melalui pelatihan dan bantuan alat pemadam.

BERITA

Arsad Ddin

4 Februari 2026
Bagikan :

(Foto: Asian Agri)


Riau, HAISAWIT – Asian Agri melaksanakan Program Desa Bebas Api (DBA) atau Fire-Free Village Program (FFVP) sejak 2016 guna mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada berbagai wilayah operasional perkebunan kelapa sawit.

Langkah strategis ini melibatkan masyarakat sekitar melalui pemberian edukasi, bantuan peralatan pemadaman, serta skema insentif ekonomi bagi desa yang berhasil menjaga wilayahnya dari kemunculan titik api selama periode tertentu.

Dilansir dari laman Asian Agri, Rabu (04/02/2026), program ini telah mencakup 16 desa di Provinsi Riau dan Jambi dengan total luas area perlindungan mencapai lebih dari 343.000 hektare sebagaimana tercatat pada Laporan Keberlanjutan 2024.

Aktivitas pembukaan lahan dengan cara tebas bakar pada tanah gambut kering menjadi pemicu utama karhutla. Kondisi tersebut semakin berisiko saat fenomena El Nino melanda sehingga pencegahan sejak tingkat komunitas menjadi prioritas utama.

FFVP menerapkan lima prinsip utama dalam operasionalnya di lapangan:

  • Peningkatan edukasi mengenai bahaya kebakaran.
  • Pemberdayaan pemimpin regu pemadam desa.
  • Pengembangan proyek kesejahteraan masyarakat.
  • Pendampingan pembukaan lahan tanpa bakar.
  • Penghargaan berupa insentif ekonomi bagi desa berprestasi.

Tahap awal program dimulai melalui pemetaan area rawan api berdasarkan analisis data historis kebakaran. Proses identifikasi ini dilakukan secara kolaboratif bersama warga desa guna memberikan gambaran jelas mengenai ancaman titik api.

Pemantauan rutin dilaksanakan melalui kerja sama dengan kementerian terkait serta Satuan Tugas Nasional Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Manggala Agni). Patroli berkala bertujuan mendeteksi potensi panas agar tidak menjalar menjadi kebakaran besar.

Asian Agri memberikan dukungan sarana prasarana pemadaman dini kepada tim lapangan. Perlengkapan tersebut meliputi pompa air, selang, alat semprot, serta perangkat komunikasi guna mempercepat koordinasi saat muncul indikasi kebakaran di sekitar area konsesi.

Warga setempat memegang peranan utama sebagai garda depan melalui pembentukan regu pemadam. Ketua regu terpilih wajib menjalani 52 jam pelatihan teori serta tiga hari praktik lapangan mengenai navigasi dan prosedur pemadaman yang aman.

Program ini juga menyasar aspek ekonomi dengan mengenalkan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat. Warga dibekali keterampilan untuk mengembangkan komoditas pertanian non-bakar seperti budidaya nanas, durian, hingga produksi madu guna meningkatkan stabilitas finansial.

Sistem penghargaan menjadi daya tarik utama bagi partisipasi desa dalam menjaga lingkungan. Desa yang berhasil membatasi area terbakar di bawah satu hektare menerima dana pembangunan sebesar Rp50 juta dari pihak perusahaan.

Apresiasi maksimal senilai Rp100 juta diberikan kepada desa yang mampu mempertahankan status bebas api sepenuhnya selama satu tahun. Dana insentif tersebut dialokasikan bagi pembangunan fasilitas publik seperti sekolah, jalan, maupun sarana kesehatan masyarakat.

Kesadaran kolektif yang terbentuk melalui program ini menciptakan budaya baru dalam pengelolaan lahan perkebunan. Hubungan kerja sama antara korporasi dan warga diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Program DBA yang diperbarui secara rutin setiap tahun.

Langkah ini membuktikan bahwa pencegahan kebakaran berbasis komunitas efektif melindungi aset perkebunan kelapa sawit. Komitmen bersama dalam menjaga ekosistem hutan dan lahan mampu menekan risiko kerugian lingkungan serta meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim.***

Bagikan :

Artikel Lainnya