
Gambar ilustrasi suasana perkebunan sawit - HaiSawit/Arsad Ddin
Jakarta, HAI SAWIT – Perkebunan kelapa sawit Indonesia kembali menarik perhatian karena dinilai memiliki potensi ekologis yang signifikan melalui kemampuan menyerap karbon dan menghasilkan oksigen dalam jumlah besar.
Berbagai studi menunjukkan bahwa proses fotosintesis pada tanaman sawit mampu mengolah karbon dari atmosfer menjadi biomassa yang tersimpan di batang, daun, dan tanah sehingga memberi kontribusi terhadap kualitas udara.
Dilansir dari laman Gapki, Kamis (04/12/2025), satu hektare kebun sawit berpotensi menyerap hingga 64,5 ton karbon per tahun berdasarkan hasil riset yang banyak dikutip dalam kajian lingkungan dan pertanian.
Luas perkebunan sawit Indonesia yang menjangkau puluhan juta hektare memperlihatkan capaian serapan karbon yang berada pada skala besar jika dihitung secara agregat pada seluruh wilayah produksi nasional.
Potensi tersebut membuat sejumlah kalangan melihat sawit sebagai bagian dari sistem penyangga ekologi yang dapat membantu mengurangi beban emisi dari sektor transportasi dan industri.
Kemampuan sawit menghasilkan oksigen juga menjadi perhatian karena mendukung suplai udara bersih yang berasal dari aktivitas fisiologis tanaman pada fase pertumbuhan aktif.
Peran ini muncul ketika perkebunan dikelola pada lahan yang sesuai, seperti lahan non-gambut, sehingga proses penyimpanan karbon dapat berlangsung optimal dan tidak memicu pelepasan emisi tambahan.
Pemanfaatan lahan terkelola yang ditanami sawit juga menunjukkan bahwa vegetasi ini mampu menjalankan fungsi ekologis selama masa produktifnya melalui penyerapan karbon dan pembentukan biomassa.
Selain itu, karakter sawit yang tumbuh sepanjang tahun memberi peluang terhadap proses fotosintesis yang berjalan stabil sehingga serapan karbon dapat berlangsung tanpa jeda panjang.
Kajian tersebut memperlihatkan bahwa predikat paru-paru hijau yang disematkan pada sawit muncul dari perhitungan ilmiah mengenai efisiensi serapan karbon dibandingkan sejumlah tanaman tropis lainnya.
Rangkaian informasi ilmiah yang menjadi dasar analisis ini tercantum pada artikel Gapki, yang bisa diakses pembaca melalui tautan, disini.***