Akademisi UGM Soroti Risiko Konversi Lahan Karet, Sarankan Peningkatan Produktivitas Sawit yang Ada

Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, akademisi UGM, mengingatkan bahwa konversi lahan karet ke sawit berisiko secara teknis dan ekonomi. Ia menyarankan peningkatan produktivitas sawit dari kebun yang sudah ada sebagai solusi lebih bijak.

BERITA

Arsad Ddin

27 Juli 2025
Bagikan :


Yogyakarta, HAISAWIT – Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Eka Tarwaca Susila Putra, menanggapi rencana alih fungsi jutaan hektare lahan karet menjadi kebun kelapa sawit. Ia menilai kebijakan tersebut berisiko secara teknis dan ekonomi.

Menurut Eka, pendekatan konversi lahan dengan skema monokultur sawit dalam skala besar dapat melemahkan ketahanan produksi pertanian. Ia menekankan perlunya mempertimbangkan strategi yang lebih beragam dan adaptif bagi petani.

“Budidaya kelapa sawit secara monokultur dalam lanskap yang sangat luas memiliki risiko tinggi, terutama jika terjadi ledakan hama penyakit,” ujar Eka, dikutip dari laman UGM, Minggu (27/07/2025).

Ia menyarankan agar penguatan industri sawit dilakukan melalui peningkatan hasil kebun eksisting. Hal itu dinilai lebih aman dan efisien ketimbang memperluas areal baru dengan mengganti komoditas lain.

“Peningkatan produktivitas dari kebun sawit eksisting lebih rasional dibanding membuka lahan baru, apalagi dengan mengganti karet,” jelasnya.

Eka menambahkan, dalam kondisi fluktuasi harga global, petani memerlukan sistem produksi yang mampu menjaga pendapatan dari berbagai sumber, bukan hanya dari satu komoditas.

“Konversi komoditas ketika harganya jatuh bukan pilihan bijak karena situasi semacam ini sudah berulang kali terjadi, dan kita selalu mengulang kesalahan yang sama,” ucapnya.

Dari sisi keberlanjutan, Eka menyebut pola kebun campuran lebih adaptif terhadap perubahan dan dapat memperkuat sistem pertanian nasional. Ia mendorong pendekatan ini diterapkan lebih luas.

“Diversifikasi komoditas dan pengelolaan terintegrasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut, Eka juga menilai perlunya kebijakan berbasis data yang mencakup aspirasi petani dan dampak jangka panjang. Ia menyebut penyusunan kebijakan konversi saat ini belum mencerminkan pendekatan partisipatif.

“Pendekatan yang lebih partisipatif dan berbasis kondisi lapangan sangat dibutuhkan agar kebijakan tidak berakhir kontraproduktif,” katanya.

Dalam pernyataannya, ia juga menyampaikan bahwa peningkatan produktivitas sawit dapat mendukung ketahanan energi tanpa harus mengorbankan komoditas lain yang juga penting secara strategis.

“Dengan skema seperti itu, kita tidak perlu mengorbankan komoditas lain demi sawit, tetapi tetap bisa mewujudkan ketahanan energi,” ungkapnya.***

Bagikan :

Artikel Lainnya