
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menghadiri forum peluncuran kelompok kerja kemitraan sawit berkelanjutan di Hotel Hermes Palace Banda Aceh pada Rabu (13/8/2025). (Foto: Dok. Humas Aceh)
Banda Aceh, HAISAWIT - Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyatakan seluruh perkebunan sawit di Aceh terbebas dari wilayah deforestasi. Hal itu ia sampaikan dalam forum peluncuran kelompok kerja kemitraan sawit berkelanjutan di Banda Aceh.
Fadhlullah mengajak perusahaan global untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah serta masyarakat. Menurutnya, visi sawit berkelanjutan di Aceh perlu diwujudkan bersama-sama lintas pihak.
"Mari berkolaborasi bersama pemerintah dan masyarakat Aceh, dalam upaya mewujudkan visi kelapa sawit berkelanjutan di Aceh," ujar Fadhlullah, dikutip dari laman Pemprov Aceh, Senin (25/8/2025).
Ia menambahkan, Aceh telah memiliki dua instrumen penting sebagai dasar pengelolaan sawit berkelanjutan. Pertama, peta jalan sawit berkelanjutan 2023–2045. Kedua, rencana aksi daerah sawit berkelanjutan Aceh 2023–2026.
"Namun demikian, Aceh belum memiliki satupun industri hilir yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha sawit," ucap Fadhlullah.
Dalam forum itu, ia memaparkan bahwa potensi sawit Aceh cukup besar. Produksi CPO mencapai lebih dari satu juta ton setiap tahun, berkontribusi sekitar 2,41 persen terhadap total produksi nasional.
"Padahal Aceh saat ini menghasilkan lebih dari satu juta ton minyak kelapa sawit mentah atau CPO setiap tahunnya. Jumlah ini menyumbang sekitar 2,41% dari total produksi CPO nasional," katanya.
Selain isu hilirisasi, Fadhlullah menekankan kesiapan infrastruktur untuk mendukung iklim investasi. Menurutnya, berbagai fasilitas transportasi dan energi sedang diperkuat oleh pemerintah daerah.
"Saat ini Pemerintah sedang melakukan pembangunan jalan tol yang menghubungkan ibukota provinsi Aceh dengan perbatasan Sumatera Utara. Progress jalan tol saat ini baru sampai kabupaten Pidie," jelasnya.
Dalam penjelasan lebih lanjut, ia menyinggung bahwa jalan tol tersebut akan menjadi jalur penghubung strategis bagi arus logistik Aceh menuju wilayah lain di Sumatera.
"Dalam 4 tahun ke depan diharapkan jalan tol Aceh sudah terhubung dengan jalan tol lintas Sumatera," sambung Fadhlullah.
Forum tersebut diikuti perwakilan sejumlah perusahaan besar sawit global seperti Unilever, Pepsico, Nestle, Mars, Mondelez, Musim Mas, Apical, Permata Hijau Group, dan Sinar Mas.
Hadir pula lembaga mitra Yayasan Inisiatif Dagang Hijau, Forum Konservasi Leuser, serta pejabat dari Kementerian dan lembaga terkait. Acara ini berlangsung di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.***