Universitas Medan Area (UMA) melalui Program Desa Binaan (PDB) mengembangkan Desa Gunung Ambat menjadi desa mandiri sawit. Tahun kedua difokuskan pada penanaman bibit sawit dan inovasi lidi bernilai jual tinggi.
Arsad Ddin
15 September 2025Universitas Medan Area (UMA) melalui Program Desa Binaan (PDB) mengembangkan Desa Gunung Ambat menjadi desa mandiri sawit. Tahun kedua difokuskan pada penanaman bibit sawit dan inovasi lidi bernilai jual tinggi.
Arsad Ddin
15 September 2025
Medan, HAISAWIT – Universitas Medan Area (UMA) berhasil meraih hibah Program Desa Binaan (PDB) tahun kedua dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program ini diarahkan untuk mengembangkan Desa Gunung Ambat menjadi desa mandiri berbasis kelapa sawit yang berkelanjutan.
Program PDB UMA dipimpin oleh Dr. Rosliana Lubis bersama tim lintas disiplin dari Ilmu Kimia, Ilmu Komunikasi, Manajemen, dan Teknik Mesin. Kegiatan berjalan dengan dukungan pemerintah desa dan difokuskan pada pengembangan potensi perkebunan sawit serta pemanfaatan hasil sampingnya.
Dikutip dari laman UMA, Senin (15/9/2025), kegiatan tahun kedua mencakup pemanfaatan lahan bengkok desa seluas 2 hektare untuk penanaman bibit sawit. Pola tanam 8 x 9 meter dengan 138 lubang per hektare digunakan, serta pupuk organik diterapkan untuk menjaga keberlanjutan.
Selain itu, inovasi pengolahan pelepah sawit menjadi lidi bernilai jual tinggi juga diperkenalkan. Hibah berupa mesin pemisah lidi diserahkan langsung kepada Kepala Desa Gunung Ambat, Sukardi Ginting, guna meningkatkan kapasitas produksi masyarakat setempat.
Teknologi mesin pemisah tersebut mampu menghasilkan lidi sawit dengan kualitas lebih cerah berwarna kekuningan. Produk hasil mesin ini memiliki nilai jual mencapai Rp7.500 per kilogram kering, lebih tinggi dibandingkan metode manual sekitar Rp5.000 hingga Rp5.300.
Penggunaan mesin pemisah lidi tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Masyarakat desa mendapatkan akses pada teknologi yang lebih efisien untuk mengolah hasil kebun sawit menjadi produk bernilai tambah.
Sementara itu, lahan tidur yang sebelumnya tidak dimanfaatkan kini ditanami bibit sawit produktif. Proses land clearing, pemupukan, hingga penanaman dilakukan secara bertahap untuk memastikan tanaman tumbuh sesuai standar budidaya.
Program ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa dalam meningkatkan ekonomi lokal. Pemanfaatan sumber daya sawit melalui pendekatan ilmiah dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pelaksanaan Program Desa Binaan UMA bersifat multi years selama tiga tahun. Pada tahun kedua ini, fokus diarahkan pada peningkatan produktivitas sawit sekaligus pengembangan produk turunan pelepah yang memiliki nilai ekonomi di pasar.***