
Bandarlampung, HAISAWIT – Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) mengembangkan penelitian pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (tankos) sebagai bahan bakar alternatif. Penelitian ini dilakukan melalui proses optimasi produksi briket dari limbah media tanam jamur merang.
Penelitian tersebut dipimpin oleh M. Perdiansyah Mulia Harahap bersama Prof. Dr. Ir. Sarono dan Subandi. Ketiganya berfokus pada pengolahan limbah tankos sawit yang selama ini dianggap bermasalah agar dapat bernilai tambah.
"Limbah tankos ini memiliki potensi besar untuk diubah menjadi briket, bahan bakar padat berenergi tinggi yang bermanfaat dalam mengatasi masalah energi," ujar Sarono, dikutip dari laman rri.co.id, Jumat (19/9/2025).
Tankos sawit diketahui menyumbang sekitar 23 persen dari total tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan. Meski kerap dimanfaatkan sebagai media tanam jamur merang, sisa penggunaannya masih mengandung lignoselulosa tinggi yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Proses penelitian ini melibatkan pembuatan arang tankos melalui pengeringan dan pirolisis. Setelah menjadi arang, bahan digiling, diayak 40 mesh, lalu dicampur dengan perekat tapioka serta air sebelum dicetak dengan tekanan tertentu.
"Penentuan tekanan yang tepat sangat penting untuk menghasilkan briket dengan kepadatan dan kualitas yang baik," ujar Subandi.
Langkah penelitian tersebut menghasilkan briket dengan bentuk padat dan efisien. Uji pendahuluan yang dilakukan menunjukkan adanya potensi energi yang tinggi dari bahan bakar alternatif berbasis limbah sawit ini.
Hasil uji menunjukkan briket memiliki nilai kalor berkisar 5115 hingga 5396 kalori per gram. Angka ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan beberapa jenis bahan bakar biomassa lain yang umum digunakan.
"Dengan nilai kalor yang cukup tinggi ini, briket dari limbah tankos dapat menjadi sumber energi yang efisien dan ramah lingkungan," kata M. Perdiansyah.
Penelitian Polinela ini juga memperlihatkan bahwa pemanfaatan limbah sawit dapat dilakukan dengan pendekatan teknologi sederhana. Dari proses pengeringan hingga pencetakan, setiap tahapan dirancang agar hasil briket memiliki daya guna optimal.***