
Universitas Andalas bersama BKPSL dan Forpimpas Wilayah Barat mengadakan seminar pengelolaan sawit berkelanjutan di The ZHM Premiere Hotel, Padang, pada 31 Juli 2025. (Foto: Dok. UNAD)
Padang, HAISAWIT – Universitas Andalas (UNAD) menegaskan pentingnya kontribusi akademisi dalam merespons tantangan lingkungan yang dihadapi industri sawit nasional melalui Seminar Nasional bertajuk “Pengelolaan Industri Sawit Secara Berkelanjutan”.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di The ZHM Premiere Hotel Padang, Kamis (31/7), sebagai bagian dari rangkaian Konferensi dan Rapat Kerja Nasional BKPSL serta pertemuan Forum Pimpinan Pascasarjana (Forpimpas) Wilayah Barat.
Seminar menghadirkan sejumlah tokoh akademik dan pemerintah, termasuk Staf Ahli Menteri LHK, Nur Adi Wardoyo, serta perwakilan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan jajaran pimpinan universitas.
Dalam pemaparannya, Nur Adi Wardoyo menjelaskan bahwa industri sawit tidak hanya berperan strategis dalam ekonomi, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang kompleks.
“Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara, penyediaan lapangan kerja, serta pembangunan daerah,” ujar Nur Adi Wardoyo, dikutip dari laman UNAND, Sabtu (2/8/2025).
Ia juga menyinggung dampak ekologis dari pembukaan lahan untuk sawit yang masih menjadi sorotan di berbagai wilayah penghasil.
“Perluasan lahan sawit sering menyebabkan deforestasi dan merusak keanekaragaman hayati,” ungkapnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa tantangan lain juga muncul dari praktik yang masih belum ramah lingkungan dan berpotensi menimbulkan konflik sosial.
“Praktik pembukaan lahan dengan pembakaran, limbah industri, serta sengketa lahan dengan masyarakat lokal juga menjadi isu yang harus diselesaikan melalui pendekatan berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, Prof. Apt. Henny Lucida, Ph.D., selaku perwakilan Rektor UNAD, menilai forum ini menjadi langkah kolaboratif untuk membangun tata kelola sawit yang lebih bertanggung jawab.
Ia turut menyampaikan gagasan mengenai pemanfaatan limbah industri sawit untuk sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Kami berharap limbah industri sawit bisa diolah menjadi sumber energi terbarukan yang menggantikan bahan fosil untuk kebutuhan industri,” tuturnya.
Seminar ini diinisiasi oleh Pusat Studi Lingkungan Hidup UNAD dengan dukungan Badan Kerja Sama Pusat Studi Lingkungan se-Indonesia (BKPSL), dan turut melibatkan Forpimpas Wilayah Barat.
Selain akademisi, kegiatan juga dihadiri oleh pelaku usaha, pejabat daerah, serta perwakilan kementerian yang membahas peluang dan tantangan keberlanjutan industri sawit.***