Sulap Limbah Sawit Jadi Asap Cair, Inovasi Produk Hijau Kaya Manfaat

Limbah cangkang dan tandan kosong kelapa sawit kini diolah menjadi asap cair melalui teknologi pirolisis. Inovasi ini menghasilkan produk multifungsi sebagai pengawet alami, penggumpal lateks, hingga pestisida hayati yang ramah lingkungan.

BERITA

Arsad Ddin

2 Februari 2026
Bagikan :

(Foto: Kementan RI)

Jakarta, HAISAWIT – Inovasi teknologi pirolisis kini mampu mengubah limbah padat perkebunan kelapa sawit menjadi asap cair sebagai solusi produk ramah lingkungan yang berfungsi sebagai pengawet alami hingga pestisida organik.

Limbah berupa cangkang dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) yang melimpah diproses melalui dekomposisi bahan organik menggunakan suhu panas tanpa kehadiran oksigen untuk menghasilkan larutan kondensasi uap yang bermanfaat.

Dilansir dari laman Kementan RI, Senin (02/02/2026), asap cair sangat efektif digunakan untuk mengendalikan hama dengan dosis 10 sampai 20 cc per liter air guna mengatasi gangguan wereng batang cokelat serta walang sangit.

Proses pengolahan biomassa ini memanfaatkan kandungan senyawa kimia kompleks seperti selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang terdapat pada material sisa penggilingan sawit untuk menciptakan zat cair kaya manfaat.

Kandungan kimia utama dalam produk hasil kondensasi ini terdiri dari air, fenol, asam, serta senyawa aroma yang tingkat mutunya sangat bergantung pada jenis bahan baku dasar yang digunakan.

Terdapat beberapa keunggulan teknis yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah sawit menjadi asap cair bagi sektor pertanian dan perkebunan di Indonesia, antara lain:

  • Kandungan fenol yang tinggi mampu menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif.
  • Memiliki tingkat keasaman rendah yang berfungsi sebagai penggumpal lateks pengganti asam format.
  • Mampu memberikan aroma, rasa, serta warna cokelat alami pada produk lembaran.

Kandungan asam dan fenol dalam cairan ini terbukti mampu menggumpalkan getah karet seefektif penggunaan asam asetat, bahkan menunjukkan hasil yang lebih optimal jika dibandingkan dengan penggunaan asam format.

Asap cair juga berperan sebagai pestisida hayati yang memiliki sifat menolak atau repellent sehingga serangga enggan mendekat tanpa menyebabkan kematian pada musuh alami tanaman di area perkebunan.

Sebagai racun kontak bagi serangga hama, produk ini bertindak sebagai bakterisida serta penolak makan yang aman bagi lingkungan karena tidak menyebabkan ledakan hama baru atau kerusakan pada jaringan tanaman.

Berikut merupakan tingkatan kualitas atau grade asap cair setelah melalui proses pemurnian melalui metode pengendapan serta penyulingan atau redestilasi:

  • Grade 1: berwarna bening dan aman digunakan sebagai bahan tambahan pangan.
  • Grade 2: berwarna cokelat terang dengan aroma asam kuat untuk biopestisida.
  • Grade 3: berwarna hitam pekat dan berfungsi optimal sebagai pengawet kayu.

Pada bidang pangan, penggunaan cairan mutu pertama memberikan perlindungan terhadap kerusakan bahan makanan melalui penghambatan bakteri pembusuk, sementara kadar timbal pada biji kedelai dapat diturunkan menggunakan produk ini.

Integrasi teknologi pirolisis dalam pengelolaan limbah sawit menciptakan efisiensi sumber daya lokal serta mendorong peluang usaha berkelanjutan melalui produksi bahan kimia hijau yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi pekebun.

Produk hasil olahan biomassa ini membuktikan bahwa material sisa perkebunan dapat bertransformasi menjadi sarana produksi pertanian yang mendukung sistem budidaya ramah lingkungan serta meminimalisir ketergantungan pada bahan kimia sintetis.***

Bagikan :

Artikel Lainnya