Dua mahasiswa ITB berhasil menciptakan alat deteksi dini jamur penyebab busuk akar sawit berbasis machine learning. Inovasi ini membawa mereka meraih penghargaan internasional dalam ajang IVCCII 2025 di Malaysia.
Arsad Ddin
26 Juli 2025Dua mahasiswa ITB berhasil menciptakan alat deteksi dini jamur penyebab busuk akar sawit berbasis machine learning. Inovasi ini membawa mereka meraih penghargaan internasional dalam ajang IVCCII 2025 di Malaysia.
Arsad Ddin
26 Juli 2025
Jatinangor, HAISAWIT – Dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih penghargaan internasional atas inovasi teknologi untuk mendeteksi penyakit busuk akar pada kelapa sawit. Karya tersebut menggabungkan sensor tanah dan machine learning.
Penghargaan Silver Award itu diraih dalam ajang International Virtual Competition of Creative & Innovative Idea (IVCCII) 2025. Kompetisi digelar oleh MNNF Network Malaysia dan diikuti lebih dari 200 peserta dari beberapa negara.
Mahasiswa yang terlibat dalam proyek ini adalah Muhammad Fadhiil Hafidz Alfarisy dan Muhammad Arsyad Fajri dari Program Studi Rekayasa Pertanian, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Keduanya mengangkat tema deteksi jamur Ganoderma.
Inovasi yang dikembangkan berjudul Early Detection of Ganoderma boninense Based on Machine Learning Using Soil Physical Parameters. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi dini jamur penyebab penyakit busuk akar sawit.
Jamur Ganoderma boninense dikenal sebagai patogen utama penyakit busuk akar atau Basal Stem Rot. Penyakit ini menyebar perlahan antar pohon sawit dan kerap terdeteksi saat sudah mencapai tahap lanjut.
Muhammad Arsyad menjelaskan alasan memilih tema deteksi jamur sawit. Ia menyebut proyek ini berkaitan erat dengan ilmu yang dipelajari di jurusan mereka.
"Kami memilih topik ini karena sesuai dengan latar belakang keilmuan dan pengetahuan yang telah kami pelajari di jurusan kami, Rekayasa Pertanian," ujar Arsyad, dikutip dari laman ITB, Sabtu (26/07/2025).
Dalam proses pengembangannya, alat ini dirancang untuk memantau kelembapan, suhu, dan konduktivitas tanah. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi kemungkinan infeksi jamur secara lebih awal.
“Kalau satu pohon sudah terinfeksi, maka kemungkinan pohon-pohon di sekitarnya juga akan ikut terjangkit," kata Muhammad Fadhiil.
Kondisi inilah yang membuat kebutuhan terhadap alat pemantau lebih presisi menjadi semakin penting. Deteksi sejak awal memungkinkan petani mengambil langkah pencegahan sebelum jamur menyebar luas.
"Karena itu, diperlukan solusi deteksi dini yang bisa membaca tanda-tanda kemunculan jamur ini dari kondisi tanah,” sambungnya.
Pengembangan alat ini melibatkan dua dosen pembimbing dari bidang keahlian berbeda, yaitu Dr. Indrawan Cahyo Adilaksono dari bidang Agroteknologi dan Acep Purqon dari bidang Fisika Bumi dan Sistem Kompleks.
Ajang IVCCII 2025 yang diikuti secara daring pada Mei lalu menjadi wadah unjuk karya teknologi pertanian dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei.***