
Jakarta, HAISAWIT – Industri hilir kelapa sawit menjadi salah satu penggerak ekonomi desa, membuka peluang kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengolahan CPO menjadi produk turunan bernilai tinggi.
Pengembangan industri hilir juga mendorong munculnya unit usaha di sekitar sentra produksi, termasuk pengolahan oleokimia, biofuel, serta produk makanan dan kosmetik berbasis sawit.
Dikutip dari laman Ditjenbun Kementan, Selasa (19/8/2025), sektor hilir sawit menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja sepanjang rantai pasok, sementara pengembangan industri pendukung memberi peluang tambahan lapangan kerja di desa.
Hadirnya industri pengolahan di wilayah pedesaan memperluas kesempatan kerja bagi generasi muda sebagai teknisi, operator, pengemas, dan tenaga pemasaran, sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga petani.
Fasilitas fiskal dan kemudahan perizinan melalui sistem OSS menjadi salah satu dorongan bagi investor membangun industri hilir, sehingga nilai tambah produk sawit di dalam negeri dapat meningkat.
Skema pembiayaan, termasuk peningkatan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR), membuka akses bagi koperasi petani dan UKM agribisnis untuk mengembangkan usaha pengolahan di sektor hilir.
Bea keluar progresif terhadap CPO dan program mandatori biodiesel (B40–B50) mendorong pertumbuhan industri hilir, sekaligus memperkuat rantai nilai domestik sebelum produk diekspor ke pasar internasional.
Kebijakan pajak ekspor biji mentah meningkatkan kapasitas pengolahan lokal, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pengolah kelapa sawit dan kakao terbesar di dunia, seiring tumbuhnya investasi di sektor hilir.
Direktorat Hilirisasi Hasil Perkebunan di Ditjen Perkebunan Kementan melakukan kajian terkait model bisnis, kebutuhan tenaga kerja, dan legalitas lahan rakyat untuk mendukung pengembangan industri hilir.
Dengan insentif fiskal, KUR, dan peraturan pendukung, industri hilir sawit berkembang lebih optimal. Peluang ini memberi akses bagi investor, petani, dan UKM mengembangkan usaha pengolahan di dalam negeri tanpa bergantung pada ekspor bahan mentah.***