Efisiensi Biaya Perawatan, Mengapa Tidak Semua Gulma Harus Dibasmi dari Kebun?

Pekebun sawit dan perusahaan mulai menerapkan pengendalian gulma selektif guna menekan biaya operasional. Metode berbasis ekosistem ini bertujuan menjaga kelembapan tanah serta produktivitas tanaman utama melalui pemanfaatan vegetasi bawah yang tidak bersifat merugikan.

BERITA

Arsad Ddin

5 Februari 2026
Bagikan :

(Foto: IPOSS)


Jakarta, HAISAWIT – Pengelolaan kebun kelapa sawit modern kini mulai meninggalkan metode pembersihan lahan secara total demi menjaga keseimbangan ekosistem serta menekan pengeluaran operasional perusahaan maupun pekebun swadaya.

Pendekatan ilmiah membuktikan bahwa eliminasi seluruh vegetasi bawah justru berisiko merusak kualitas tanah. Pengendalian selektif menjadi solusi untuk mempertahankan produktivitas tanaman utama sekaligus menjaga kelembapan alami pada area piringan pokok.

Dilansir dari laman IPOSS, Kamis (05/02/2026), keberadaan gulma agresif seperti alang-alang (Imperata cylindrica) mampu menurunkan ketersediaan hara tanah secara drastis serta mengurangi potensi hasil panen hingga angka yang cukup signifikan.

Data penelitian menunjukkan bahwa persaingan penyerapan air antara tanaman utama dengan vegetasi liar sering kali menjadi penyebab utama terhambatnya pertumbuhan vegetatif pada fase tanaman belum menghasilkan atau sering disebut TBM.

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menyarankan pergeseran metode dari penggunaan bahan kimia secara masif menuju sistem pengendalian terpadu. Langkah ini bertujuan menciptakan lingkungan perkebunan yang lebih sehat dan berkelanjutan secara agronomis.

Konsep Integrated Weed Management (IWM) atau manajemen gulma terpadu menjadi acuan utama dalam mengombinasikan teknik fisik, biologis, serta kimiawi. Strategi tersebut mampu mengurangi ketergantungan pada herbisida yang berharga cukup tinggi.

  • Alang-alang (Imperata cylindrica) memiliki sistem rimpang agresif.
  • Gulma berdaun sempit seperti Dicanthium linearis indikator lahan miskin fosfor.
  • Anakan kayu berakar tunggang bersaing menyerap nutrisi di lapisan dalam.

Pengenalan jenis vegetasi menjadi sangat krusial agar tindakan pengendalian tepat sasaran. Tidak semua tumbuhan yang muncul di sela-sela pohon kelapa sawit merupakan ancaman yang harus segera dimusnahkan dengan bahan kimia.

Beberapa tumbuhan bawah justru berfungsi sebagai tanaman penutup tanah yang sangat efektif. Vegetasi ini berperan penting dalam menahan laju erosi tanah terutama pada area perkebunan yang memiliki topografi miring atau bergelombang.

Jenis pakis Nephrolepis biserrata adalah salah satu contoh vegetasi bermanfaat karena sifatnya yang epifit. Tanaman ini tidak mengambil nutrisi dari pohon sawit melainkan membantu menjaga kelembapan mikro di sekitar batang.

  • Pakis membantu menurunkan laju evaporasi air tanah.
  • Bayam-bayaman liar di luar piringan menjaga kegemburan tanah.
  • Vegetasi lunak menjadi habitat alami bagi predator hama ulat api.

Penggunaan herbisida sistemik secara berlebihan tanpa perhitungan dosis yang akurat berisiko meninggalkan residu kimia. Kandungan zat sisa tersebut berpotensi terdeteksi pada produk akhir berupa minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).

Oleh karena itu, prinsip tepat dosis dan tepat sasaran menjadi standar baku yang harus diterapkan. Efisiensi biaya tercapai saat penggunaan bahan kimia hanya difokuskan pada gulma yang benar-benar memberikan dampak negatif.

Inovasi lain yang mulai diterapkan adalah pemanfaatan hewan ternak seperti sapi untuk mengendalikan pertumbuhan rumput secara alami. Integrasi ini menghasilkan keuntungan ganda berupa kebersihan lahan terkontrol serta ketersediaan pupuk organik.

Keberhasilan pengelolaan lahan sangat bergantung pada pemahaman ekologi vegetasi lokal. Dengan mempertahankan sebagian gulma lunak, biaya tenaga kerja untuk penyemprotan rutin dapat dialihkan pada kebutuhan perawatan pohon kelapa sawit yang lebih mendesak.

Pendekatan selektif ini membuktikan bahwa operasional perkebunan yang efisien tidak selalu identik dengan lahan yang gundul. Keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan menjadi kunci utama kesuksesan industri kelapa sawit pada masa depan.***

Bagikan :

Artikel Lainnya