Bencana Aceh Tamiang, 98 Persen Kebun Sawit Warga Sekumur Musnah Tak Bersisa

Banjir bandang di Kecamatan Sekerak menghancurkan 98 persen perkebunan sawit dan karet warga Desa Sekumur. Saat ini masyarakat membutuhkan bantuan bibit palawija serta pakaian ibadah guna memulihkan kemandirian ekonomi pascabencana besar tersebut.

BERITA

Arsad Ddin

31 Januari 2026
Bagikan :
Ilustrasi perkebunan sawit - HaiSawit


Banda Aceh, HAISAWIT – Banjir bandang dahsyat pada akhir November 2026 menghancurkan Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, hingga mengakibatkan 98 persen perkebunan kelapa sawit dan karet milik warga musnah total.

Bencana besar tersebut menghanyutkan hampir seluruh pemukiman penduduk dan menyisakan hamparan lumpur. Sebanyak 276 Kepala Keluarga (KK) dengan total 1.232 jiwa kini kehilangan seluruh sumber pendapatan utama dari sektor perkebunan.

Desa Sekumur kini dinyatakan sebagai kampung yang hilang karena hanya menyisakan delapan unit rumah rusak parah. Warga yang selamat terpaksa mengungsi ke area perbukitan dan lahan perkebunan sawit yang posisinya lebih tinggi.

Kondisi ekonomi masyarakat berada pada titik nol lantaran aset pertanian yang menjadi tumpuan hidup selama puluhan tahun habis terbawa arus. Warga saat ini sangat bergantung pada bantuan logistik yang masuk ke tenda darurat.

Kepala Desa (Kades) Sekumur, Sofyan Iskandar, menjelaskan bahwa kemandirian ekonomi warga hancur seketika akibat bencana tersebut. Ia mengungkapkan betapa parahnya kerusakan lahan pertanian yang selama ini menghidupi ribuan jiwa di wilayahnya.

“Masyarakat memang saat ini tergantung dengan bantuan karena semua pertanian masyarakat habis. Rata-rata di sini bertani sawit dan karet. Kebun karet dan kebun sawit semuanya sudah habis, 98% habis dibawa banjir,” ujar Sofyan, dikutip dari laman Distabun Aceh, Sabtu (31/01/2026).

Setelah kehilangan kebun sawit, warga kini mengajukan permintaan bantuan bibit tanaman pangan kepada pemerintah. Mereka membutuhkan benih palawija seperti kangkung, bayam, serta bibit padi agar bisa kembali beraktivitas di lahan yang tersisa.

Berikut adalah poin-poin utama terkait kondisi terkini di lokasi bencana:

  • Total 276 KK atau 1.232 jiwa kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
  • Lahan perkebunan sawit dan karet mengalami kerusakan mencapai 98 persen.
  • Warga membutuhkan bantuan bibit palawija untuk memulihkan kemandirian ekonomi jangka pendek.
  • Kebutuhan mendesak mencakup pakaian muslim untuk ibadah menyambut bulan suci Ramadan 2026.
  • Alat berat mulai beroperasi melakukan pembersihan lumpur serta pembukaan akses jalan desa.

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan lima unit ekskavator ke lokasi. Alat berat tersebut difungsikan untuk membersihkan fasilitas vital seperti masjid, sekolah, dan pusat kesehatan masyarakat pembantu.

Warga Desa Sekumur juga mengharapkan percepatan pembangunan hunian sementara sebelum memasuki bulan puasa. Listrik menjadi kebutuhan mendesak lainnya agar aktivitas sosial dan ibadah di lokasi pengungsian dapat berjalan dengan lebih layak.

Proses pembersihan jalan desa mulai menunjukkan kemajuan meskipun akses menuju lahan perkebunan sawit yang hancur masih sulit dijangkau. Sisa-sisa material bangunan kini dimanfaatkan sebagian warga untuk membangun atap sederhana sebagai tempat berteduh.

Prioritas utama warga saat ini adalah memfungsikan kembali masjid agar pelaksanaan salat Jumat bisa kembali berjalan. Seluruh masyarakat setempat yang beragama Islam berupaya bangkit meski harus beribadah di tengah keterbatasan fasilitas pascabencana.***

Bagikan :

Artikel Lainnya