Kisah Bapak Sumar, Antara Cita-cita Pengusaha dan Realita di Kebun Sawit

Bapak Sumar menceritakan perjalanan lima tahun menjadi petani sawit melalui program Kata Petani. Kisah ini merangkum perjuangan menghadapi fluktuasi harga hingga ambisi besar membangun unit usaha profesional di sektor perkebunan kelapa sawit nasional.

HAI EDUKASI SAWIT

Arsad Ddin

7 Februari 2026
Bagikan :

Dok. YouTube Hai Sawit TV


Jakarta, HAISAWIT – Bapak Sumar membagikan kisah inspiratifnya sebagai petani kelapa sawit dalam program Kata Petani yang tayang pada 1 Februari 2024 lalu melalui saluran YouTube resmi Hai Sawit TV.

Pria yang sudah menggeluti profesi ini selama lima tahun tersebut menceritakan awal mula terjun ke perkebunan karena mengikuti jejak saudara laki-lakinya yang lebih dahulu sukses mengelola komoditas strategis nasional ini.

Bapak Sumar mengungkapkan pandangannya mengenai potensi ekonomi yang besar dari kepemilikan lahan sendiri serta pilihan jenis tanaman yang paling menguntungkan bagi kesejahteraan hidup keluarga petani di masa depan nanti.

“Kalau sekarang kan pasti pakai kebun sawit kalau saya udah di pekerjaan saya gitu. Yang lebih baik itu paling kebun sawit kalau udah punya lahan.” ujar Sumar, dikutip dari YouTube Hai Sawit TV, Sabtu (07/02/2026).

Meskipun memiliki keyakinan kuat pada potensi komoditas ini, Bapak Sumar tidak memungkiri adanya tantangan berat yang harus dihadapi para petani, terutama saat terjadi fluktuasi harga beli tandan buah segar (TBS).

“Kemarin itu turun sampai 1.000, dari (sebelumnya) 3.000 sampai sampai 1.000.” ungkapnya mengen kenangan pahit ketika nilai jual komoditas unggulan tersebut merosot tajam hingga menyentuh titik terendah yang pernah ia rasakan.

Selain fluktuasi harga, narasumber menjelaskan bahwa keberhasilan panen sangat bergantung pada kedisiplinan dalam melakukan perawatan rutin. Beberapa aspek penting dalam pengelolaan perkebunan sawit yang dijalankannya meliputi poin-poin sebagai berikut:

  • Melakukan pembersihan lahan secara berkala untuk menjaga area pohon tetap bersih.
  • Memastikan jadwal pemupukan dilakukan secara tepat waktu dan tidak mengalami keterlambatan.
  • Menjaga kondisi fisik tanaman agar tetap produktif meskipun menghadapi perubahan cuaca.

Konteks perjuangan hidup Bapak Sumar juga menyentuh sisi personal mengenai impian lamanya menjadi seorang pengusaha sukses yang kini coba ia wujudkan kembali melalui sektor perkebunan kelapa sawit yang ia tekuni.

“Kalau ada biaya mah ya jadi pengusaha di kelapa sawit. Kalau sekarang kan saya udah tahu gitu sawit-sawitnya”, tuturnya saat menjelaskan keinginan besar untuk menyekolahkan anaknya agar bisa mengelola bisnis sawit secara profesional.

Beliau juga memberikan pesan kepada generasi muda agar tidak merasa malu untuk terjun langsung ke lapangan karena peluang ekonomi di sektor perkebunan ini masih terbuka sangat lebar bagi siapapun.

Bapak Sumar menutup sesi wawancara dengan menekankan bahwa pengalaman langsung di kebun adalah guru terbaik untuk memahami ekosistem industri ini secara utuh sebelum memutuskan untuk mengembangkan unit usaha yang lebih besar.***

Bagikan :

Artikel Lainnya